Selasa, 24 Februari 2026

Refleksi Ramadan: Mengusahakan Takwa dengan Amal Produktif

(Gambar dibuat menggunakan Gemini)


Alhamdulillah, sebuah kebahagiaan bagi kita bisa bertemu dengan Ramadan. Terutama saat banyak yang merindukannya tetapi qadarullah, Allah sudah memanggil mereka terlebih dahulu. Ada juga yang bertemu Ramadan namun belum bisa merasakan kebahagiaan seperti kita. Semoga Allah Ta’ala memberikan keberkahan bagi seluruh Muslim di dunia selama Ramadan ini.

Ramadan adalah bulan yang istimewa. Jika kita cermati perintah Allah Ta’ala mengenai puasa, yakni dalam Al-Baqarah ayat 183–186, kita akan mendapati panggilan khusus yang ditujukan bagi orang-orang beriman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا»
(Hai orang-orang yang beriman)

Dari sekitar 8,3 miliar penduduk dunia, jumlah Muslim berkisar 2,04–2,15 miliar, tetapi yang benar-benar beriman—yakni yang nantinya menyambut seruan berpuasa—lebih sedikit, kecuali bagi mereka yang berhalangan syar’i.

Allah berfirman selanjutnya bahwa puasa diwajibkan atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian. Artinya, syariat puasa juga berlaku bagi umat Islam selain umat Nabi Muhammad ﷺ meski berbeda cara dan waktunya, contohnya umat Nabi Daud yang melakukan puasa Senin dan Kamis.

Sebaik-baiknya puasa adalah puasa saudaraku, Dawud a.s. Ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari, (H.R. Ahmad). 

Dari perintah puasa dalam Al-Baqarah ayat 183 kita menjadi tahu bahwa puasa memiliki tujuan utama, yaitu agar kita menjadi takwa. Mengapa Allah tidak langsung memberikan takwa, lalu menyuruh berpuasa? Sebab puasa adalah madrasah tarbiyah untuk melatih hamba-Nya supaya beriman dan berproses menjadi bertakwa. Taqwa ini proses yang diusahakan, salah satunya melalui amalan produktif.

Sejarah membuktikan bahwa puasa Ramadan bukanlah waktu untuk berleha-leha atau bersantai. Di bulan yang mulia ini, kaum Muslimin justru diuji dalam medan perjuangan dan keteguhan iman.

Perang Badar pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriyah / 624 M menunjukkan bahwa ¹kaum Muslimin yang jumlahnya sedikit dan persenjataannya lebih sederhana dapat meraih kemenangan luar biasa dengan semangat iman yang kuat di bulan puasa. Perang Tabuk tahun 9 Hijriyah kembali memperlihatkan keteguhan umat dalam menghadapi tantangan besar, saat Ramadan, keadaan begitu sulit, paceklik menghadapi Byzantium. Perang ini disebut juga Perang Sulit (Ghazwah al-'Usroh) yang pada akhirnya dimenangkan muslim.

Selain itu, perjuangan umat Islam di Eropa oleh Thariq bin Ziyad pada Ramadan abad ke-8 M, menunjukkan bagaimana semangat juang dan keteguhan iman diwujudkan melalui strategi, disiplin, dan keberanian. Ia memimpin 12 ribu pasukan melawan 100 ribu tentara bersenjata lengkap untuk menaklukan Andalusia yang luasnya 1,5 kali Pulau Sumatera.

Kisah-kisah tersebut menjelma dalam bulan Ramadan sebagai pengingat akan keberanian, kesabaran, dan amal saleh.

Maka, pada Ramadan kali ini, mari kita tuliskan mimpi-mimpi istimewa kita, panjatkan doa-doa khusus kita, dan wujudkan semuanya melalui amalan produktif yang mendekatkan kita kepada Allah.

Wallaahu a'lam 

ata


Referensi:
Al-Qur'an 
Abazhah, N. (2014). Perang Muhammad. Zaman.
Hamas, E. (2022). The Untold Islamic History. Generasi Shalahuddin Berilmu.
NU Online. (n.d.). Bagaimana puasa umat sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Diakses 20 Februari 2026, dari https://nu.or.id/syariah/bagaimana-puasa-umat-sebelum-nabi-muhammad-3tWcs
Asamuslim.id. (n.d.). Rahasia puasa di balik kata “kutiba”. Diakses 20 Februari 2026, dari https://asamuslim.id/rahasia-puasa-dibalik-kata-kutiba-
Load disqus comments

0 komentar