Temanggung.pks.id – Jembatan Kali Progo di Kranggan, Temanggung, tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga menyimpan sejarah kelam perjuangan bangsa. Pada masa Agresi Militer II tahun 1948–1949, jembatan ini menjadi lokasi eksekusi massal oleh tentara Belanda terhadap para pejuang dan rakyat sipil.
Ribuan korban gugur di tempat ini, kemudian jasad mereka dibuang ke aliran Sungai Progo. Kesaksian warga menyebutkan, hampir setiap hari terjadi pembantaian di jembatan, hingga air sungai kala itu memerah oleh darah. Salah satu korban adalah Mayor Sarno Samsiatmodjo, sementara ada kisah heroik Sukomihardjo yang berhasil melompat ke sungai dan selamat dari eksekusi.
Untuk mengenang peristiwa itu, sebuah tugu peringatan didirikan di sekitar jembatan dengan pesan mendalam dari para pejuang:
“Aku ta’ ketjewa… Aku rela… Mati untuk tjita-tjita sutji nan mulja: Indonesia merdeka, adil, makmur dan bahagia.”
Jembatan lama yang menjadi saksi sejarah akhirnya runtuh pada tahun 2018 akibat usia yang rapuh. Pemerintah kemudian membangun jembatan baru dengan konstruksi modern sepanjang 60 meter dan lebar 9 meter, yang diresmikan pada 21 Mei 2019 oleh Bupati Temanggung.
Kini, setiap menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, masyarakat menggelar doa bersama dan tabur bunga di Jembatan Kali Progo. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap para pahlawan sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa.
Anggota DPRD Kabupaten Temanggung dari Fraksi PKS, Herlina Dwi Prabawati, yang hadir dalam acara malam tirakatan di jembatan tersebut, menegaskan pentingnya kegiatan ini.
“Doa bersama dan tabur bunga bukan hanya seremonial, tetapi menjadi pengingat kita untuk meneruskan perjuangan para pahlawan dengan karya nyata, menjaga persatuan, dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.

0 komentar