Rabu, 16 Oktober 2013

Mengenal Pemikiran Dakwah Ikhwanul Muslimin


 Dasar pemikiran

Dakwah Islam adalah Proyek Kebangkitan:
Imam Syahid berkata di dalam risalahnya ‘Dakwah kami’:
“Kami ingin berterus terang kepada semua orang tentang tujuan kami, memaparkan di hadapan mereka metode kami, dan membimbing mereka menuju dakwah kami. Di sini tidak ada yang samar dan remang-remang. Semuanya terang. Bahkan lebih terang dari sinar mentari, lebih jelas dari cahaya fajar, dan lebih benderang dari putihnya siang.”

Perbedaan antara kami dan kaum kami – setelah persamaan keimanan- bahwa mereka memiliki keimanan yang stagnan dan pulas tertidur, sementara keimanan yang bersemayam di dalam jiwa Ikhwanul Muslimin adalah keimanan yang kuat membara. Kami memahami Islam dengan pemahaman yang luas dan integral, yang sejatinya mengatur seluruh urusan dunia dan akhirat, ia tidak terbatas untuk perkara-perkara ibadah atau kerohanian ... “

Sesungguhnya dakwah, dan seluruh tujuannya, sarana, metode, dan syiar-syiarnya sangat jelas dan terperinci. Ia disampaikan secara terbuka dan tidak ditutup-tutupi atau dirahasiakan. Tidak pula bertele-tele dan berbasa-basi. Tidak ada kesangsian dan keraguan. Dasar dan rujukannya adalah Islam, celupannya Islam, dan tujuannya adalah Allah –azza wa jalla-.

Sebagaimana dakwah mampu mewujudkan dan mencakup seluruh sisinya dengan segenap realisasi amal dan sifat-sifat dakwah Islam, dan seluruh segmen perbaikan, ia tidak terbatas hanya pada satu sisi tanpa sisi yang lain, atau memiliki sifat tanpa sifat yang lain, serta sangat menjaga orisinalitas rujukannya kepada Islam yang suci dan jernih sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah Saw., mengikuti metode para sahabat, dan ulama-ulama terdahulu –semoga Allah meridhai mereka-. Dakwah ini juga sangat menguasai secara mendalam kondisi dan realitas kehidupan umat serta bahaya dan kendala yang dihadapinya, penyakit dan penyebabnya. Ia mengenal jalan yang dilaluinya secara jelas, fase, sarana penyembuhan dan metodenya:
“Ia adalah Dakwah salafiyah, Thariqah suniyah, hakikat sufiyah, hai’ah siyasiyah, Jama’ah riyadhiyah, Rabithah ‘Ilmiyah tsaqafiyah, Syarikah Iqtishadiyah, Fikrah ijtima’iyah.”

Dengan ungkapan yang lain sesungguhnya kita membawa, “Proyek dakwah Islam sesuai dengan dengan manhaj nabawi” untuk kebangkitan umat. Ini bermakna bahwa sesungguhnya kami tidak hanya partai politik yang dimiliki sebuah komunitas muslim yang memiliki misi perbaikan Islam, namun lebih dari itu kami memiliki sebuah proyek perbaikan Islami yang merupakan bagian tak terlepaskan dari rekonstruksi (celupan) Islam yang menyeluruh yang dengannya kita mendapatkan celupan serta obsesi yang kita miliki. Ia merupakan proyek yang berkaitan erat dengan peran umat Islam di dalam kehidupan, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah,
                                                              
     Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[993], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.” (Q.S Al Hajj: 57-58)

Imam Syahid berkata: “Wahai Ikhwanul Muslimin, wahai seluruh umat manusia .. kami bukanlah partai politik, walaupun politik yang bersendikan ajaran Islam merupakan inti fikrah kami, dan kami bukanlah lembaga sosial kemasyarakatan, walaupun amal-amal kebaikan dan sosial merupakan target terbesar kami, dan kami bukanlah klub olahraga, walaupun olahraga fisik dan rohani menjadi salah satu bagian terpenting dalam dakwah kami. Kami bukanlah bentuk-bentuk yang disebutkan di atas, karena hal itu semua dapat dilegalkan oleh tujuan-tujuan tertentu, serta dalam waktu yang tertentu pula.. sementara kami wahai umat manusia adalah fikrah dan akidah, aturan dan manhaj yang tidak dibatasi oleh wilayah tertentu, dan tidak dibatasi oleh jenis tertentu, yang tidak dihalangi oleh batas-batas geografis, ia tidak akan berhenti pada sebuah urusan sehingga Allah mewariskan bumi dan seluruh isinya; sesungguhnya ia adalah hukum dari Allah Yang Maha Mencipta alam semesta, serta merupakan manhaj Rasul-Nya yang terpercaya.”

Walaupun dakwah ini tidak terbatas pada partai politik atau lembaga sosial kemasyarakatan, atau sebuah lembaga yang memiliki tujuan-tujuan tertentu, namun dakwah tetap memanfaatkan lembaga-lembaga ini dan kendala-kendala yang dihadapinya sebagai sarana untuk menyebarkan dakwah serta mewujudkan misi-misi Islam dan menerjemahkan nilai-nilai keIslaman ke dalam masyarakat. Maka sudah selayaknya ia mendirikan lembaga-lembaga kebaikan dan sosial, klub-klub olahraga dan partai politik (yang memiliki ideologi Islam di dalam konsep dasarnya atau memiliki metode perbaikan tertentu, atau partai politik yang mampu menyampaikan misi jama’ah dan aspirasi politiknya), serta melakukan kerjasama dengan orang lain dalam mewujudkan target-target tersebut. Semua langkah-langkah ini merupakan sarana yang akan membantu dakwah serta menjadi sarana untuk mengaspirasikan target tertentu dari gerakan dakwah dan tidak bertentangan dengan konsep universalitas dakwah dan prinsip-psinsipnya yang tetap. Dan tentunya ia tidak menjadi sesuatu yang menggantikan jama’ah, universalitasi manhaj dan pembentukannya, atau tidak terbatas pada hal itu saja.

Di dalam menghadapi rintangan-rintangan ini maka nama dan simbol tidak menjadi begitu penting, selama tujuan dan target-targetnya jelas dan terperinci, serta batasan-batasan yang benar dapat diwujudkan, serta tidak terdapat penyimpangan dari prinsip-prinsip Islam dan akidah yang benar. Sebagaimana ia juga mampu berjalan dan memainkan peran dan tugasnya dengan upaya-upaya konsitusi dan perjuangan hukum.

“Ini adalah posisi kalian. Maka janganlah merasa kecil dengan diri kalian sendiri sehingga kalian membandingkannya dengan orang-orang selain kalian. Atau kalian melakukan dakwah di atas jalan kaum nonmuslim atau kalian berupaya untuk melakukan penyeimbangan antara dakwah yang kalian ambil cahayanya dari Allah dan Rasul-nya dengan yang dakwah-dakwah lain yang banyak dilegalkan oleh kondisi-kondisi darurat, dan akhirnya lenyap bersama perputaran peristiwa dan hari.”

Obsesi, Misi dan Tujuan
Obsesi yang sebenarnya dalam menghidupkan dakwah tercermin dalam, “(Keyakinan yang kuat bahwasanya ridha Allah Swt. serta pemenuhan kewajiban pada hari perhitungan, menjadikan kita wajib melakukan amal-amal kolektif untuk menunaikan kewajiban-kewajiban syariah secara umum serta untuk meninggikan kalimat Allah Swt. di muka bumi, terutama sesuai dengan pemahaman yang benar terhadap Islam sebagaimana yang disebutkan dalam Risalah Ta’alim secara khusus dan di dalam rukun pertama ‘Al Fahm’ secara khusus.

Dan hendaknya obsesi ini menjadi dasar yang mendorong realisasi amal-amal kolektif tumbuh dari pijakan ibadah, dan hendaknya kerja-kerja kolektif –termasuk jama’ah- tidak menjadi tujuan atau sarana, namun ia merupakan kewajiban. Kebutuhan kita terhadap jama’ah akan terus berlaku kewajiban-kewajiban yang menjadi dasar kewajibannya masih ada).”

Imam Syahid telah memberikan isyarat tentang fase yang sedang dihadapi oleh umat dan ini menjadi sebuah kewajiban baginya: “Telah tiba saatnya kita harus menghadapi kekeliruan masa lalu, kita harus membenahi yang pecah, menyambung yang terputus, menyelamatkan diri dan anak-anak kita, mengembalikan keperkasaan dan kemuliaan yang kita miliki, membangun peradaban dan mengajarkan agama kita, serta kita harus menyelamatkan umat dari bahaya yang mengancamnya.”

Dengan demikian, kita bisa meringkas misi-misi jama’ah yang ingin diwujudkan adalah, ((“Melakukan amal-amal untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi, agar nilai-nilai Islam dan syariatnya menjadi hukum tertinggi dan menguasai seperempat dunia,
        
          Artinya:
     “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah[611] dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah …” (Q.S Al Anfal: 39)

Hal itu dilakukan dengan kebangkitan bersama umat Islam, agar ia mampu memimpin dunia dan menjalankan perannya sebagai saksi terhadap alam semesta,
           
Artinya:
“Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu …” (Q.S Al Baqarah: 143)

Dan saling tolong menolong sesama muslim untuk melaksanakan tugas dan kewajiban-kewajiban syariat yang dibebankan kepada kita.”)

Target-target tersebut diatas bisa disederhanakan dalam beberapa hal berikut ini:
·          Pembentuk individu muslim
·          Rumah tangga Islami
·          Masyarakat muslim
·          Membebaskan negeri dari seluruh penguasa asing
·          Mendirikan pemerintahan Islam dan mengadakan perbaikan
·          Mengembalikan eksistensi negara Islam Internasional untuk seluruh umat Islam dengan membebaskan negeri-negeri mereka, mewujudkan persatuan dan kesatuan, mendirikan khilafah yang hilang dan mengembalikan wilayah-wilayah Islam yang dirampas.



Load disqus comments

0 komentar