Senin, 04 Maret 2013

Dilema Arab dan Skenario Zionis Israel


REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Ikhwanul Kiram
Mashuri
Kesamaan bahasa tampaknya masih belum
mampu mempersatukan 22 negara yang
tergabung dalam keluarga besar Liga Arab. Juga
kesamaan agama. Tidak percaya? Mari kita tengok dunia Arab kini.
Arab menjadi bahasa resmi dan bahasa sehari-hari negara-negara Arab.
Meskipun berbeda lahjah atau logat di masing-masing negara, secara
penulisan maupun gramatika bahasa mereka selalu merujuk pada
Alquran. Begitu pula dengan agama.
Islam merupakan agama resmi negara-negara Arab. Bahkan, di negara-
negara Teluk--Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan
Bahrain--hampir seratus persen warga aslinya beragama Islam. Di
negara-negara Arab tidak ada yang namanya pluralitas pemeluk agama,
kecuali di beberapa negara seperti Lebanon dan Mesir. Karena itu, Anda
tidak akan menemukan yang namanya gereja, wihara, atau sinagog di
sejumlah negara Arab.
Namun, apakah dengan kesamaan bahasa dan agama tersebut lantas
menjadikan mereka bersatu dalam sikap maupun tindakan?
Dalam masalah bangsa Palestina, misalnya. Hingga sekarang--dan sudah
berlangsung puluhan tahun--sebagian besar wilayah Palestina masih
dijajah oleh Zionis Israel. Ada negara-negara Arab yang menghendaki
cara penyelesaian dengan perundingan langsung maupun tidak langsung
dengan Zionis Israel. Ada pula yang menginginkan bahwa untuk
memerdekakan Palestina dan Madinatul Quds (Yerusalem) tidak ada cara
lain kecuali dengan perang. Atau, minimal dengan gerakan intifadah
(perlawanan rakyat) seperti yang pernah dilakukan beberapa kali oleh
rakyat Palestina.
Atau istilahnya, merujuk pada pendapat yang terakhir tadi, tidak ada
tempat buat kaum Zionis Israel di kawasan Timur Tengah. Atau, dengan
kata lain, ‘‘Lempar saja Zionis Israel ke laut (irmi ilal bahri)," sebuah
perkataan yang seringkali diucapkan para pejuang Palestina.
Cara pertama--lewat perundingan--sudah sering dilakukan, baik secara
langsung lewat juru runding Palestina maupun melalui perantara/negara
ketiga. Intifadah juga sudah beberapa kali dijalankan yang hasilnya
sangat dahsyat dan sempat membuat ciut Israel. Namun, seiring
perjalanan waktu, intifadah dan bahkan perang ternyata hingga kini juga
tidak berhasil memerdekakan Palestina.
Perbedaan cara pandang mengenai penyelesaian bangsa Palestina
seringkali menimbulkan gesekan atau bahkan perselisihan di antara
negara-negara Arab sendiri. Dari KTT Liga Arab ke KTT berikutnya tidak
pernah ada kesepakatan bulat. Yang muncul justru ‘perang kata-kata’
antarpemimpin Arab.
Belum usai masalah Palestina, muncul masalah baru: gejolak rakyat
Suriah. Tidak seperti negara-negara Arab lain yang dihantam ar Robi’ul
Araby--di mana revolusi rakyat telah berhasil menggulingkan rezim
diktator-otoriter seperti di Tunisia, Mesir, Yaman, dan Libia--Presiden
Suriah Bashar Assad hingga kini masing tegak berkuasa. Korban tewas
maupun luka-luka jumlahnya sudah puluhan ribu. Belum lagi jutaan
rakyat yang kini mengungsi di beberapa negara tetangga Suriah.
Negara-negara Teluk pada umumnya, plus sejumlah negara Arab lain
seperti Mesir, menginginkan agar Presiden Assad turun dari
kekuasaannya. Mereka mendukung tokoh-tokoh oposisi. Sedangkan yang
lain, seperti negara-negara Arab yang menjadi sekutu Iran, tetap
membela kekuasaan Presiden Assad. Masing-masing pihak didukung
kekuatan besar dunia. Penolak Presiden Assad didukung Barat,
sementara di belakang pembelanya ada Cina dan Rusia. Belum diketahui
bagaimana akhir dari gejolak yang terjadi di Suriah sekarang ini.
Hal lain yang tidak kalah peliknya selain bangsa Palestina dan gejolak di
Suriah adalah problematika nuklir Iran. Bukan rahasia lagi, dunia Arab
terpecah dua dalam memandang program nuklir Iran. Sejumlah negara
Arab, terutama negara-negara Teluk, menentang program nuklir yang
dikembangkan Republik Islam Iran itu, meskipun yang terakhir ini berkali-
kali menyatakan program nuklirnya adalah untuk perdamaian (energi
listrik).
Di balik program nuklir tersebut sebenarnya ada yang mereka sangat
khawatirkan, yaitu semakin meluasnya pengaruh Syiah Iran di kawasan
Timur Tengah. Dan, pada gilirannya akan dapat mengganggu stabilitas
kawasan yang mayoritas rakyatnya menganut Sunni. Kekhawatiran ini
pula yang pernah disampaikan oleh Grand Sheikh Al Azhar, Dr Ahmad
Thayyib, ketika Presiden Iran Ahmadinejad berkunjung ke Kairo beberapa
pekan lalu.
Masalah Sunni-Syiah ini sebenarnya sudah menjadi persoalan lama di
dunia Arab. Di Bahrain, misalnya, penguasanya Sunni, sementara
mayoritas rakyatnya Syiah. Di Suriah, Presiden Assad adalah Syiah
Alawiyah, sedangkan sebagian besar rakyatnya Sunni. Saddam Husein
ketika memerintah Irak adalah Sunni, tapi mayoritas rakyatnya Syiah. Di
Lebanon, rakyatnya sangat plural. Ada Katolik, Kristen Maronit, Druze,
Sunni, Syiah, dan lain-lain. Namun, pengaruh Syiah di Lebanon semakin
berkembang seiring dengan menguatnya peran politik kelompok
Hizbullah.
Tidak bisa dimungkiri persoalan-persoalan di atas--yang kemudian
menyebabkan perselisihan dan bahkan konflik--telah memperlemah
negara-negara Arab. Apalagi, sejumlah negara Arab yang baru saja
dihantam ar Robi’ul Araby kini juga menghadapi masalah pelik di dalam
negeri masing-masing. Ini belum lagi mengenai tingkat ekonomi negara-
negara Arab yang sangat timpang. Negara-negara Teluk sangat kaya dan
yang lainnya sangat miskin.
Karena itu, meskipun negara-negara Arab mempunyai kesamaan bahasa
dan agama, kedua hal tersebut tampaknya belum mampu
mempersatukan mereka. Tiadanya persatuan inilah yang telah lama
melemahkan posisi Liga Arab terhadap dominasi negara kecil Zionis
Israel. Atau boleh jadi, kelemahan bangsa Arab ini karena mereka
mengikuti skenario Zionis Israel dan sekutunya. Wallahu 'alam.
Sumber: m.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/03/03/mj36yf-dilema-arab-dan-skenario-zionis-israel
Load disqus comments

0 komentar